SAVRI – opening

Galau…titik itulah yang dirasakan si savri, bagaimana tidak bertahun tahun tuhan memberikan sedikit ujianNya, dasar si savri yang ndeso dan udik keras kepala tak mau juga dia belajar…ya sudah hari-harinya dipenuhi dengan kegalauan dan kebimbangan yang tak pasti. Alkisahnya si savri ini suka ngaji juga katanya tapi lagi-lagi kata dia “aku kan manusia, aku nggak bisa….ini ngga bisa itu….” Ish…apalah kau ni savri. Kasian juga sebenarnya melihatnya senyumnya yang tak semanis dulu, wajahnya tak seceria dulu dan yang paling disayangkan umurnya tak semuda dulu hahahah…itulah savri dengan segala kesavri savriannya.

Sebenarnya apa sih hal ikhwal savri kok jadi man of the match kegalauan di sini. sedikit ceritanya seperti ini dulu savri itu adalah seseorang yang muda, energik, cerdas, lihai dan tangkas sedikit multi talent meskipun dia orang ndeso udik namun kemaun belajarnya luarbiasa hebat dia bercita – cita ingin sekolah yang tinggi di uar negeri, meskipun dia tak tahu harus ngapain dan harus kekmana, moto hidupnya terlalu banyak sampai dia bingung sendiri milihnya :-D. dan dengan berbagai macam motto itulah dia sanggup bertahan hidup dan belajar dari kehidupan yang tidak dia dapatkan di lingkungan udiknya.

Singkat kata singkat cerita suatu saat setelah lulus dari perguruan tinggi dia bekerja sebagai pembantu sebuah pekerjaan yang sangat dan sangat tidak dia inginkan, dambakan atau bahkan ia cita citakan dan dan jelas sangat tidak level dengan tingkat pendidikan. ya Tuhan kerjaaanku ….Ngepel, nyuci baju, nyuci piring, nyuci mobil, ngelap kaca, ngerapiin taman…katanya. “Semoga semua kerjaan ini berkah dan bermanfaat bagi aku dan keluargaku” do’a itulah yang selalu dia panjatkan ketika dia menghadap ke Tuhannya lima kali dalam sehari. Nyatanya hanya pekerjaan itulah yang bisa ia dapatkan. Berkat salah satu dari beribu mottonya itu dia bisa melalui tahun-tahun awal kerjanya dengan baik , dengan hasil kerjanya dia bisa membantu orang tuanya membeli sawah membuat kolam lele untuk Bapaknya membuka toko kecil kecilan untuk Ibunya.

Warung sate….disitulah tempat yang paling berkesan bagi si savri. Warung sate yang terletak di samping flyover jalan Tol, pemiliknya namanya Pak Kamid, Pak Kamid ini seorang paruh baya berperawakan kurus, rambutnya sedikit beruban berkulit sawo matang wajahnya berhias jenggot syar’i dan kelihatan teduh sekali jika dilihat. Suatu hari savri pergi keluar rumah untuk membeli perlengkapan Juragannya tanpa sengaja lewat di depan warung sate Pak Kamid dia berpapasan dengan seorang perempuan. Ketika savri melihatnya waktu serasa berhenti, dilihatnya seorang gadis berwajah melayu, berkulit putih, dengan senyum yang tersungging, jilbab yang menutupi menambah keanggunan gadis itu, dan sekejap mata membuat savri terpaku mirip di sinetron… #ihiiiirrr.

Semenjak kejadian itu savri sering teringat gadis itu dan bertanya tanya siapa ya dia…suatu saat semoga gusti Alloh mempertemukan kami…aamiin.

Advertisements